“Pram mungkin benar, menulis adalah kerja keabadian. Tapi, Pram lupa: tidak semua tulisan membawa keabadian. Sebagian tulisan lebih mendesak dimasukkan ke dalam selokan. Sebagian yang lain lebih layak diangkut ke dalam truk sampah. Nah, Anda ini sedang mau menulis, atau sedang hendak menyumbang polutan? ungkap Jihan Muqoddas—Pemateri Seminar Kepenulisan Opini—kala menyampaikan materinya. Pada sabtu, 1 Agustus dan selasa, 4 Agustus 2026, Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Ansor (PC GP Ansor) Mesir sukses menyelenggarakan seminar kepenulisan.
Agenda tersebut merupakan hasil kolaborasi dari tim Redaktur ansormesir.org dan Departemen Keilmuan PC GP Ansor Mesir. Pelatihan kepenulisan ini digelar dengan tujuan melahirkan kader yang melek akan literasi dan menjadi wadah bagi karya tulis para kader. Program pelatihan yang bertempat di Aula KAHHA PCINU Mesir ini, direalisasikan selama dua hari dan diikuti oleh kontributor website, anggota marhalah meliputi, Adikara dan Diwangkara serta kontributor warta tiap departemen kepengurusan.
Pada hari pertama, peserta diberikan materi terkait penulisan sastra dan penyusunan warta. Presentasi muatan sastra disampaikan oleh Daffa Alamsyah, seorang pegiat sastra di kalangan Masisir dan kontributor pada website basabasi.co. Dalam penjelasannya, ia menuturkan bahwa menulis sastra adalah upaya untuk kembali merasakan keindahan dunia melalui penghayatan pada lantunan dan bunyi tiap kata. Tak lupa dalam akhir sesi, ia memberikan rekomendasi buku sastra yang dapat menunjang kemampuan peserta dalam menulis sastra seperti: Duka-Mu Abadi karya Sapardi Djoko Darmono, No Longer Human karya Osamu Dazai, dsb.
Masih dalam hari yang sama setelah penyampaian materi terkait penulisan sastra, acara dilanjut dengan pembekalan penyusunan warta. Presentasi penyusunan warta disampaikan oleh Uways Al Qorny, Pimpinan Redaktur Website Ansor, dan Dewan Redaksi Bedug Media. Uways melalui presentasinya menekankan poin utama dalam menjadi jurnalis adalah netralitas. “Dengan mengabdikan diri sebagai seorang jurnalis, maka objektifitas dan netralitas menjadi nyawa” ungkapnya. Dalam isi materinya, ia juga menyampaikan urgensi menulis warta, yaitu dokumentasi, informasi dan edukasi.
Berlanjut pada hari kedua, seminar diisi oleh dua pemateri dengan latar belakang yang sama. Sesi pertama dengan materi resensi dibawakan oleh M. Al Fayyadh Maulana, S.Ag., Lc. Ia menerangkan bahwa substansi penting yang membedakan antara kepenulisan Ansor dengan media Masisir lainnya adalah resensi. Pada website Ansor, terdapat dua resensi utama yang menjadi pondasi kepenulisan yaitu, resensi Shout al-Azhar dan resensi buku keagamaan. Dalam materi yang disampaikan, ia memetakan dua hal penting yang menjadi poin menarik dalam Shout al-Azhar, yaitu biografi tokoh alumni al-Azhar oleh Sayyid Khimar dan opini terkini dari Maryam Taufiq.
Sesi terakhir yaitu, penulisan opini yang dibawakan oleh M. Jihan Muqoddas. Melalui pemaparannya, Jihan berupaya untuk memberikan pemahaman secara utuh dalam menulis opini. Ia juga menyajikan berbagai tulisan opini dari para tokoh, seperti Mahbub Djunaidi, Goenawan Mohammad, dan lainnya. Penyajian tersebut digunakan untuk memantik peserta agar dapat melihat penulisan opini dengan sudut pandang luas dan teknik yang beragam. Dalam presentasinya, ia memberikan contoh-contoh opini dan obituari menarik dengan beberapa judul seperti Gus Dur karya Goenawan Muhammad, Rahmat Jalaluddin Rakhmat karya Hamid Basyaib, dan Belajar Mengarang Bersama Prabowo karya AS. Laksana.
Terdapat beberapa evaluasi dalam berjalannya acara, puncaknya adalah keterlambatan panitia dalam menyiapkan acara. Dalam pamflet yang tersebar, kegiatan berlangsung pada pukul lima sore, sedangkan kegiatan baru dimulai sekitar pukul lima lebih empat puluh menit, terhitung sejak pembawa acara membuka pelatihan secara resmi. Namun perlu dipahami, berlangsungnya acara pelatihan ini menunjukkan komitmen Ansor Mesir dalam meningkatkan kemampuan internal kepengurusannya. Melalui pelatihan ini, Ansor Mesir berupaya untuk membentuk kader yang tidak hanya militan secara pergerakan tetapi, kuat secara intelektual dan gagasan.
Reporter: Bima Rahman Hakim
Tidak ada komentar