
Jika Nanti Aku Jatuh
Oh, Pemeluk jiwa rapuh ini,
bila langkahku terseok di lembah takdir,
biarkan aku jatuh dengan sadar
agar tanah mengenal keningku,
dan debu mengenang doaku.
Aku tak memohon jalan yang rata,
jika di setiap bebatuan
Kau sembunyikan nama-Mu
dalam bentuk sabar yang tak
pernah disebut-sebut lidah.
Kairo, Oktober 2025.
Sepeninggalmu
Kekasih, tuan hati kami.
Telah panjang usia dunia sejak langkahmu beranjak dari tanah ini.
Zaman kian renta,
jiwa-jiwa lemah yang dahulu mudah menangis, kini lebih pandai menghunus kata daripada meluruhkan keakuan.
Dan manusia, dengan dada yang penuh debu, kini menamai congkak dengan kebenaran.
Sepeninggalmu,
suluk yang kau wariskan
menjadi medan pertikaian.
Kekasih,
Namamu tetap kami semayamkan dalam madah. Namun tatkala kami menapaki asar yang kau tinggalkan, jejak-jejak kami justru kehilangan wangi jalanmu.
Alangkah jauh laku kami dari wasiat pekerti yang dahulu membuatmu dikasihi langit dan bumi.
Kekasih,
“masihkah kami pantas menyebutmu kekasih?”
Kairo, September 2026.
Tidak ada komentar