Maulid, Kitab, dan Jalan Panjang Mencintai Nabi

waktu baca 6 menit
Selasa, 1 Sep 2026 01:32 0 5 Ansor Mesir

Maulid Nabi selalu menghadirkan pertanyaan sederhana: bagaimana seharusnya kelahiran Nabi Muhammad SAW dikenang? Di tengah banyaknya cara untuk merayakannya, masyarakat memiliki pilihan yang beragam, ada yang memperbanyak selawat, menggelar pengajian, membaca maulid, atau berkumpul dalam berbagai majelis keagamaan. Di lingkungan mahasiswa Indonesia di Mesir yang cukup dekat dengan tradisi pesantren dan kajian kitab, menghidupkan Maulid melalui pembacaan kitab menjadi pilihan yang memiliki makna tersendiri.

Pilihan itu pula yang dilakukan PC MDS Rijalul Ansor Mesir bersama PC Fordaf Mesir dan LD PCINU Mesir. Dalam rangka mengisi momentum Maulid Nabi, mereka menggelar kajian al-Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyid al-Mursalin karya Hadratussyekh KH M. Hasyim Asy’ari. Kajian berlangsung di Aula KAHHA PCINU Mesir dalam tiga pertemuan, 9, 20, dan 27 Agustus 2026, dengan jumlah peserta berkisar 40–60 orang pada setiap pertemuan. Syekh Mahmud Fathi Hijazi, salah seorang masyayikh al-Azhar, dimintai sebagai pengampu kajian.

Pemilihan al-Nur al-Mubin menarik untuk diperhatikan. Kitab ini tidak hadir secara kebetulan di tengah suasana Maulid. KH M. Hasyim Asy’ari menyusun karya tersebut dengan pembahasan yang berhubungan dengan kecintaan kepada Rasulullah SAW. Karena itu, mengkajinya pada bulan Maulid seperti membawa peringatan kelahiran Nabi ke dalam ruang yang lebih dekat dengan tradisi belajar.

Ada hubungan yang cukup kuat antara Maulid, mahabah, dan ilmu. Kecintaan kepada seseorang tentu akan mendorong seseorang untuk mengenalnya. Demikian pula kecintaan kepada Rasulullah SAW semestinya membuka jalan untuk mengenal beliau secara lebih mendalam tentang bagaimana kehidupan, kedudukan, dan akhlak Nabi. Lebih dari itu, mahabah mendorong mereka untuk memahami bagaimana umat seharusnya menempatkan beliau serta para ulama memahami hubungan seorang Muslim dengan Rasulullah SAW. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu tidak cukup dijawab dengan suasana perayaan. Ia membutuhkan proses belajar.

Di sinilah alasan mengapa pembacaan kitab dalam Maulid menjadi penting. Kajian kitab memberi kesempatan kepada peserta untuk berhenti sejenak dari rutinitas peringatan dan masuk ke dalam teks. Ada sesuatu yang dibaca, dipahami, ditanyakan, lalu direnungkan. Maulid akhirnya memiliki ruang untuk hadir sebagai pengalaman intelektual sekaligus spiritual.

Pilihan Al-Nur al-Mubin juga memiliki kedekatan dengan kultur masyarakat pesantren. Kitab bagi kalangan pesantren bukan sekadar kumpulan tulisan yang dibaca sampai selesai. Di dalamnya ada tradisi talaki, ada guru yang menjelaskan, murid yang menyimak, pertanyaan yang diajukan, serta proses memahami teks secara bertahap. Tradisi semacam ini terasa hidup dalam kajian yang digelar PCINU Mesir.

Pelaksanaan Maulid tersebut menunjukkan pola itu. Sebelum penjelasan syekh dimulai, kitab terlebih dahulu dibaca secara bergantian oleh panitia dan peserta. Pembacaan dilakukan hingga menyelesaikan satu fashl. Setelah itu, Syekh Mahmud Fathi Hijazi memberikan penjelasan terhadap bagian yang telah dibaca. Pola ini berlangsung dari satu pembahasan ke pembahasan berikutnya sampai akhirnya seluruh kitab dapat diselesaikan.

Cara semacam ini membuat buku tidak berhenti sebagai teks yang dibacakan. Peserta memiliki kesempatan untuk mendengar teks secara langsung, memperhatikan penjelasan pengampu, kemudian mengikuti arah pembahasan yang sedang dibicarakan. Apalagi beberapa kali Syekh Mahmud Fathi Hijazi memberikan pertanyaan kepada peserta tentang materi yang baru saja dibaca. Hadirin pun diberi ruang untuk menjawab.

Ada hal sederhana yang dapat dipelajari dari pola tersebut. Belajar kitab tidak selalu berarti duduk diam selama guru berbicara. Ada proses membaca, mendengar, memahami, mengingat, lalu merespons. Pertanyaan dari pengampu membuat peserta tidak sekadar menjadi pendengar. Mereka dipaksa untuk kembali melihat apa yang baru saja dibaca dan mencoba memahami maksudnya.

Dalam konteks mahasiswa Indonesia di Mesir, pola kajian semacam ini menjadi semakin menarik. Lingkungan al-Azhar mempertemukan mahasiswa dengan tradisi keilmuan yang panjang. Namun, keberadaan di lingkungan tersebut tentu tidak otomatis membuat seseorang akrab dengan seluruh khazanah keilmuan. Tetap diperlukan ruang untuk membaca dan mengkaji bersama. Kajian Al-Nur al-Mubin menjadi salah satu ruang itu.

Namun, ukuran keberhasilan kajian semacam ini rasanya tidak cukup diletakkan pada satu hal: kitab selesai dibaca. Khatam memang penting. Ia menandai bahwa tiga pertemuan yang dimulai sejak  9 Agustus akhirnya sampai pada halaman terakhir. Akan tetapi, nilai sebuah kajian kitab justru berada pada apa yang tersisa setelah kitab ditutup. Apa yang berubah dalam cara peserta memandang Rasulullah SAW? Apa yang bertambah dalam pengetahuan mereka? Apakah pembacaan itu membuat kecintaan ke pada Nabi memiliki dasar pengetahuan yang lebih kuat?

Pertanyaan tersebut penting karena kecintaan kepada Nabi mudah sekali berhenti pada ungkapan. Selawat dapat dilantunkan, pujian dapat dibacakan, dan peringatan Maulid dapat berlangsung meriah. Semua itu memiliki tempatnya sendiri. Kajian kitab memberi jalur lain: kecintaan dibawa masuk ke dalam proses mengenal.

Dari sini ada pelajaran yang lebih luas. Tradisi keilmuan sebenarnya dapat menjadi cara untuk merawat rasa cinta. Pengetahuan dan kecintaan tidak perlu ditempatkan sebagai dua hal yang saling berjauhan. Semakin seseorang mengenal sosok yang dicintainya, semakin banyak alasan yang ia temukan untuk mencintai. Dalam konteks Nabi Muhammad SAW, proses mengenal itu memiliki dimensi yang jauh lebih dalam karena berkaitan dengan sosok yang menjadi teladan bagi umat Islam.

Ada pula pelajaran tentang cara menjaga tradisi. Mengkaji kitab di tengah kehidupan mahasiswa yang penuh kesibukan mungkin terlihat sederhana. Hanya membaca beberapa bagian, mendengarkan penjelasan, menjawab pertanyaan, lalu melanjutkannya pada pertemuan berikutnya. Namun, dari kegiatan semacam itulah sebuah tradisi terus hidup. Tradisi keilmuan tidak selalu bertahan melalui acara besar. Ia justru sering tumbuh dari majelis-majelis kecil yang terus diadakan dan diikuti.

Kajian al-Nur al-Mubin juga memperlihatkan bahwa peringatan keagamaan dapat menemukan bentuknya melalui tradisi intelektual yang dekat dengan masyarakatnya. PCINU Mesir bersama lembaga dan badan otonom di bawahnya memilih mengisi Maulid dengan membaca karya ulama. Pilihan tersebut terasa relevan dengan kehidupan mahasiswa Indonesia di Mesir yang memiliki kedekatan dengan pesantren sekaligus sedang berada di lingkungan al-Azhar.

Pada akhirnya, mungkin itulah salah satu cara sederhana memahami Maulid: memperingati Nabi dengan berusaha semakin mengenal beliau. Tiga kali pertemuan telah selesai. Kitab telah dikhatamkan. Aula kembali seperti sediakala setelah para peserta meninggalkannya. Cendera mata telah diberikan, foto bersama telah diabadikan, dan majelis telah ditutup dengan doa. Namun, yang diharapkan dari sebuah kajian tentu lebih panjang daripada umur sebuah acara. Hal itu dilandasi, karena  kitab yang selesai dibaca belum tentu selesai dipelajari, Begitu juga, majelis yang telah bubar belum tentu selesai memberikan pelajaran.

Dari al-Nur al-Mubin, setidaknya ada satu pesan yang layak dibawa pulang dari momentum Maulid: mencintai Nabi juga membutuhkan kesediaan untuk mengenalnya. Proses pengenalan, dalam tradisi para ulama, sering kali dimulai dari hal yang sederhana: duduk bersama, membuka kitab, membaca perlahan, mendengarkan guru, bertanya, lalu berusaha membawa apa yang dipelajari ke dalam kehidupan.

Dengan cara itu, Maulid tidak berhenti sebagai tanggal dalam kalender atau sebuah agenda tahunan. Ia menjadi kesempatan untuk kembali mendekat kepada Rasulullah SAW melalui jalan yang telah lama ditempuh para penuntut ilmu: membaca, mengaji, memahami, dan menghidupkan apa yang telah dipelajari.

 

Ansor Mesir

Admin Website Ansor Mesir

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA