Peringatan Nuzul Al-Qur’an; Esensi Turunnya Al-Qur’an dan Peran Al-Azhar dalam Mencegah Syubhat Keraguan Golongan Skeptis

waktu baca 4 menit
Kamis, 27 Mar 2025 17:10 0 213 Ansor Mesir

Ansormesir.org– Kairo, Selasa (25/3) MDS Rijalul Ansor bersama Ansor dan Fatayat NU Mesir menggelar acara peringatan Nuzulul Qur’an. Acara ini dihadiri oleh 25 peserta warga Nahdliyyin dan 40 undangan dari pihak Ansor Mesir, Fatayat Mesir, LBM Mesir dan lembaga lain dibawah naungan PCINU Mesir. Acara ini dilaksanakan di Aula KAHHA PCINU Mesir, Kairo.

Menggunakan konsep Nadwah Ilmiyyah atau Seminar Keilmuan dengan mengangkat tema, “Pemahaman Nuzulul Qur’an dan Peran Al-Azhar dalam Menghadapi Syubhat-Syubhat Keraguan Golongan Skeptis.” Acara ini turut menghadirkan Syekh Abdul Fattah Abdul Ghoni Al-Awari, Mantan Dekan Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar Kairo dan juga Syekh Mahmud Abdurrahman Abdul Mun’im, Mantan Kepala Jurusan Ushul Fiqh.

Lantunan Rebana yang dibawakan oleh grup rebana An-Nahdlah mengawali acara ini. Kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan Sholat Ashar berjamaah. Dan disambung dengan Sambutan dari Ketua Cabang GP Ansor Mesir, Sahabat Muhammad Haidar, Lc.

Dalam sambutannya beliau mengatakan bahwasanya tema seminar kali ini benar-benar relevan dikala banyak orang yang masih banyak salah memahami esensi dari turunnya Al-Qur’an. “Ramadhan juga di kenal sebagai Bulan Al-Qur’an, oleh karenannya relevan sekali pada kesempataan ini kita membahas tema ini.” ujar beliau.

Sahabat Haidar menambahkan, bahwasannya di zaman sekarang juga banyak simpang-siur syubhat tentang Al-Qur’an, dan tema ini juga akan menjawab semua tuduhan-tuduhan yang dilemparkan kepada Al-Qur’an tersebut.

Saat menyampaikan materi, Pembicara Pertama, Syekh Awari menjelaskan tentang makna Nuzulul Quran dari segi bahasa yang berarti turun. Namun jika menggunakan makna hakiki ini maka akan menimbulkan sebuah argument bahwasanya Al-Qur’an turun ke bumi itu sudah dalam bentuk jisim atau bertempat. Sementara Al-Qur’an adalah Kalam Allah, yang mana termasuk sifat Allah, jika demikian akan timbul persepsi bahwasannya Allah juga memiliki Jisim.

Oleh karenannya, beliau menjelaskan lagi bahwasanya mayoritas ulama’ sepakat bahwasanya Nuzul disini menggunakan makna Majazi yang mana memiliki makna yang luas, tak hanya ‘turun’ saja. Beliau juga menjelaskan perbedaan langkah-langkah turunnya Al-Qur’an, ada yang mengatakan Jumlatan Wahidah (satu kali turun), ada juga yang mengatakan dari para ulama’ bahwasanya Al-Qur’an turun secara Munajjaman (berangsur-angsur). Dari Allah ke Lauh Mahfudz, dari Lauh Mahfudz ke Langit Dunia yang disebut juga sebagai Baitul Izzah, lalu dari situ dibawa oleh Jibril ke Nabi Muhammad.

Pembicara kedua, Syekh Mahmud Abdurrahman secara umum lebih menjelaskan Al-Qur’an sebagai landasan dan pondasi utama dari agama Islam dari sisi Ushul Fiqh. Al-Quran berposisi sebagai sumber rujukan utama dalam pengambilan Syariat dalam Islam, lalu disusul dengan Sunnah dan seterusnya. Beliau juga menjelaskan tentang bagaimana posisi Al-Qur’an sebagai kalam nafsi atau kalam hissi dari segi teologi.

Syekh Mahmud menjelaskan peranan Al-Azhar yang mana dari dulu sampai sekarang tetap konsisten menjaga Al-Qur’an dari segala Aspek. Ahli Bahasa menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber pembelajaran kaidah-kaidah bahasa. Ahli Ushul Fiqh menjadikan Al-Qur’an sebagai Sumber rujukan pertama dalam penetapan hukum. Ahli Tafsir menjadikan Al-Qur’an sebagai bahan penilitian secara mendalam yang mana maknanya relevan untuk setiap zaman.

Diakhir, Syekh Mahmud memberikan nasehat kepada para peserta yang hadir untuk bersungguh-sungguh memperhatikan Al-Qur’an. Hafalkan Al-Qur’an secara keseluruhan dan pahami makna-makna dari setiap pentafsiran Al-Qur’an tersebut.

Acara dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab, dalam sesi ini ada seorang penanya yang bertanya tentang Tajdid dan Mujaddid di era sekarang. Syekh Mahmud Abdurrahman menjelaskan bahwasannya Mujaddid adalah berdasarkan Qadrahnya Allah bukan berdasar pada pengakuan. Karena jika hanya berdasarkan pengakuan maka akan banyak kita temui Mujaddid di segala fan ilmu dan di segala negara, karena mereka akan mengakui bahwa di daerah mereka ada seorang Mujaddid.

Seminar berlangsung menarik dan hangat. Dialog interaktif antara peserta dan pemateri terjalin dengan baik, walau sedang berpuasa para peserta sangat antusias dalam mengikuti seminar ini. Acara diakhiri dengan berbuka bersama dengan menu yang sudah disediakan oleh pihak penyelenggara.

Ikuti berita menarik lainnya seputar Ansor Mesir di Kolom Kabar.

Ansor Mesir

Admin Website Ansor Mesir

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA