Senin, 17 Agustus 2026, Aula KAHHA PCINU Mesir dengan ratusan kaum Nahdliyyin Mesir di dalamnya, berteduh serta bersorak-sorai memperingati kemerdekaan Indonesia. Dimulai pada pukul 20.00 WLK, acara Malam Tirakatan dan Kenduri Kemerdekaan 81 Tahun RI terselenggarakan. Agenda ini dilaksanakan sebagai ajang doa dan refleksi atas perjuangan para pahlawan bangsa, serta titik pembaruan semangat nasionalisme. Meski sempat mengalami penangguhan waktu akibat keterlambatan peserta dan pengisi acara, rangkaian kegiatan tetap berjalan lancar.
Peringatan ini turut dihadiri Duta Besar Indonesia untuk Republik Arab Mesir, Kuncoro Giri Waseso, serta jajaran Tanfidziyah PCINU Mesir. Dubes Kuncoro berpesan dalam sambutannya, “Sebagai mahasiswa yang berada di luar negeri, Masisir harus tetap menunjukkan identitasnya sebagai rakyat Indonesia dan tidak terpengaruh oleh arus masyarakat lokal.” Kemudian sambungnya “Pelajarilah semua ilmu, dekatilah para ulama dan perbanyaklah teman. Hal tersebut dapat berguna bagi kehidupan nantinya.”.
Adanya pembacaan istighosah menjadi pembeda di antara peringatan kemerdekaan pada umumnya, sekaligus merupakan ciri khas Nahdlatul Ulama. Bacaan zikir yang dilantunkan merupakan susunan dari K.H. Hasyim Asy’ari. Menurut Wakil Kepala Bidang Ansor Mesir Bidang Sosial dan Budaya (Sahabat Maul), istighosah K.H. Hasyim Asy’ari dipilih bukan semata-mata beliau adalah pendiri NU, tetapi juga bentuk penghormatan kepadanya sebagai sosok ulama Indonesia yang merupakan pahlawan bangsa pejuang kemerdekaan tanah Nusantara.
Istighosah ini awalnya diijazahkan oleh K.H. Hasyim Asy’ari kepada putranya K.H Kholiq Hasyim. Kemudian, Kiai Kholiq mengijazahkan kepada muridnya yang bernama K.H Fahrudin. Beberapa bulan sebelum pengasuh pesantren Thoriqul Huda Ponorogo ini wafat, Kiai Fahmi―cucu K.H. Hasyim Asy’ari―sempat silaturahim dan mendapatkan ijazah istighosah untuk disebarkan kepada masyarakat, sebagaimana keinginan dari K.H. Fakhrudin sebelum beliau wafat.
Runtutan zikir ini diawali dengan bacaan Asmaul Husna, lalu istighfar dan dipungkasi dengan qosidah yang ditulis oleh As-Sayid Al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir Ba‘alawi yang ada di kitab Manakib Syekh Abdul Qodir Al-Jailani. Konon K.H. Hasyim Asy’ari pernah memprediksi akan terjadinya gonjang-ganjing yang akan menimpa Indonesia terutama Nahdlatul Ulama. Maka dengan membaca istighosah ini, diharapkan kejadian itu dapat tercegah.
Kemudian, lantunan lagu Indonesia Raya dan Ya Lal Wathon pada awal acara menjadi penyegar rasa cinta tanah air. Selain itu, panitia menyuguhkan lantunan gambus dan pembacaan puisi. Kedua penampilan ini bertujuan untuk menyatukan dua budaya. Lantunan gambus merupakan kesenian khas Timur Tengah dan pembacaan puisi sebagai pendekatan sastra Indonesia. Hal ini sesuai dengan posisi Masisir sebagai mahasiswa diaspora di Mesir.
Ketua Tanfidziyah PCINU Mesir, K.H. Nur Fuad Shofiyullah, berharap pertemuan ini menjadi perkumpulan yang menguatkan jiwa patriotisme berbangsa yang telah dicontohkan oleh para pendahulu Nahdlatul Ulama. Hal ini selaras dengan pesan Rais Syuriah, K.H. Ali Irham, “Dari dahulu ajaran masyaikh NU, Indonesia adalah rumah kita. Ketika ada orang yang ingin menguasai rumah kita maka kita harus memeranginya dan hal itu dapat menyingkirkan klaim segelintir manusia bahwa orang agamis tidak nasionalis.” kata beliau.
Sebelum penutupan, terdapat acara pembagian hadiah dari lomba-lomba semarak kemerdekaan yang diadakan pada tanggal 14 Agustus 2026. Kemudian acara ditutup dengan doa serta tasyakuran makan bersama. Semoga kegiatan ini menjadi sarana pengisian kembali jiwa nasionalisme Masisir, khususnya warga Nahdliyyin, dan semoga harapan yang dipanjatkan untuk kemaslahatan Indonesia serta rakyatnya dapat dikabulkan oleh Allah SWT.
Reporter: Abdurrahman Azhar Muthohari
Tidak ada komentar