Keagungan Akhlaq Sang Baginda: Keteladanan Moral Yang Mulai Terabaikan

waktu baca 5 menit
Kamis, 8 Okt 2026 20:42 0 8 Zainul Hasan

Hadirnya bulan Maulid memberikan ruang bagi umat Islam untuk mengenang dan merayakan kelahiran Nabi Muhammad Saw. Maraknya perayaan Maulid di berbagai tempat, pembacaan sirah, hingga ceramah agama yang bertebaran di media sosial, seharusnya dapat menumbuhkan kesadaran umat Islam untuk makin meneladani sosok yang dicintainya.

Namun, di tengah kemeriahan tersebut, masih banyak yang enggan meneladani serta mengikuti ajaran beliau. Mirisnya, fenomena ini justru kerap ditemukan di dalam diri umat Islam itu sendiri. Padahal, Al-Qur’an secara eksplisit (sharîh) telah menegaskan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah suri teladan yang baik sekaligus pemilik akhlak yang agung. Hal ini ditegaskan dalam Surat Al-Ahzab ayat 21:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا

Artinya: “Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah”. (QS. Al-Ahzab: 21).

Tak hanya dalam literatur Islam, tokoh-tokoh besar non-Muslim pun mengakui keagungan serta pengaruh luar biasa Nabi Muhammad SAW, seperti Michael H. Hart dan John Esposito. Lantas, mengapa masih banyak umat Islam yang enggan meneladani Nabinya sendiri? Bukankah keagungan beliau telah diakui, baik oleh kitab suci maupun oleh pandangan dunia luar?

Untuk menjawab persoalan ini, kita membutuhkan refleksi mendalam dan evaluasi diri secara jujur: sejauh mana perayaan Maulid yang kita gelar benar-benar meresap menjadi cerminan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Akhlak Agung Nabi Muhammad Saw

Nabi Muhammad Saw merupakan sosok yang menjadi inspirasi umat islam dalam meniti kehidupan. Ia hadir tidak hanya membawa sebuah teori dan gagasan, akan tetapi hadir sebagai contoh kongkrit kepada manusia. Beliau merupakan sosok manusia paripurna yang memiliki kesempurnaan kemanusiaan (al-kamāl al-insānī) sekaligus kesempurnaan kenabian (al-kamāl al-nabawī). Kepribadian dan akhlak beliau menjadi representasi ideal ajaran Islam, karena seluruh perilaku, ucapan, dan sikap Nabi Muhammad Saw merupakan cerminan nilai-nilai Al-Qur’an, sebagaimana ditegaskan oleh Aisyah r.a. bahwa akhlak Nabi adalah Al-Qur’an itu sendiri. Bahkan, Allah Swt. memberikan pujian yang sangat tinggi kepada beliau dalam firman-Nya:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Artinya: “Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.”

(QS. Al-Qalam: 4).

Ayat ini adalah pujian langsung dari Allah, sebuah pengakuan bahwa akhlak Rasulullah merupakan puncak dari keindahan moral. Menariknya, para ulama tafsir sepakat bahwa akhlak Nabi berakar pada Al-quran. Menurut Tafsir Ibn Katsir, ayat ini merupakan pujian langsung dari Allah Swt. atas kesempurnaan akhlak Nabi. Tidak hanya itu, Al-Thabari juga menegaskan bahwa akhlak Nabi berakar pada Alquran, yakni segala tindakannya adalah pengejawantahan dari wahyu. (Tafsir al-Tabari, hlm. 529).

Namun, sebuah pertanyaan penting muncul: Jika Al-Qur’an sudah begitu jelas menjelaskan kemuliaan akhlak Nabi Muhammad ﷺ dan menjadikannya sebagai teladan, mengapa masih ada sebagian umat Islam yang enggan mengikuti beliau?

Kurangnya Pemahaman terhadap Sirah dan Akhlak Nabi Muhammad Saw

Sebagian umat Islam mungkin mengenal Nabi Muhammad Saw hanya dalam konteks ibadah saja. Padahal, kalau diamati kembali kehidupan beliau sangat luas dan penuh dengan keteladanan. Mulai dari bagaimana beliau memperlakukan keluarganya, bagaimana beliau berbicara dengan sahabatnya, bagaimana beliau bermuamalah dengan tetanganya, bagaimana beliau menyikapi perbedaan pendapat, bagaimana beliau memperlakukan orang yang miskin, serta bagaimana beliau memaafkan orang yang menyakitinya.

Semakin seseorang mengenal kehidupan Nabi Saw, maka ia akan semakin banyak mengetahui keteladanannya. Berbeda halnya dengan seseorang yang kurang mengenal Nabi Muhammad, maka ia akan enggan untuk meneladaninya. Bagaimana munkin ia bisa meneladani akhlak mulia Nabi, kalau tentang kehidupanya saja dia banyak tidak tahu.

Karena itu, sangat disayangkan ketika banyak orang mengadakan maulid Nabi, tapi isinya hanya sebatas seremonial saja, tanpa adanya pembacaan atas sirah Nabi Muhammad Saw. Sebab pembacaan sirah Nabi merupakan proses untuk mengenal karakter manusia terbaik yang telah Allah pilih sebagai Rasulnya.

Hawa Nafsu sebagai Penghalang Keteladanan.

Meneladani Nabi Muhammad Saw. Tidak selalu mudah, karena terkadang ajaran beliau berhadapan dengan keinginan hawa nafsu manusia. Nabi Muhammad mengajarkan kepada umatnya untuk mengendalikan amarah, berbicara yang santun, sabar ketika dihadapkan dengan musibah, memaafkan satu sama lain. Dan hal itu semua membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Sebab lawanya Adalah hawa nafsu, dan hawa nafsu mampu mengobrak-abrik dan menghancurkan kehidupan kita jika kita tidak mampu mengendalikannya. Imam Al-Busiri berkata dalam Qosidah Burdahnya di bait yang ke-19 :

والنفس كالطفل إن تهمله شب على حب الرضاع وإن تفطمه ينفطم

Artinya: “Nafsu bagaikan bayi, bila kau biarkan akan tetap menyusu. Namun bila kau sapih, maka bayi akan berhenti sendiri.”

Seseorang pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk mengikuti apa yang disukai. Ketika kepentingan pribadi bertabrakan dengan Ajaran Nabi Muhammad, seseorang bisa saja memilih untuk mengikuti apa yang disukai, ketimbang Ajaran Nabinya. Oleh sebab itu, Meneladani Nabi Muhammad Saw perlu adanya Mujahadah (kesungguhan), Yaitu mujahadah dalam melawan hawa nafsu. Sehingga kita dapat membiasakan diri untuk meneladani sunnah Rasulnya.

Cinta kepada Nabi Saw yang Belum Sempurna

Setiap dari kita tentu mengaku mencintai Nabi Muhammad Saw. Namun, cinta yang sejati tidak berhenti pada ucapan. Cinta akan melahirkan keinginan untuk mengenal, mengikuti, dan meneladani orang yang dicintai. Seseorang yang menyatakan cinta terhadap apa yang ia cintai, semestinya ia mampu merelakan dirinya untuk mengikuti, meneladani, dan membahagiakanya. Allah Swt bahkan menjadikan mengikuti Rasulullah Saw sebagai bukti cinta kepada-Nya:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ

Artinya: “Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.” (QS. Ali ‘Imran: 31).

Imam Al- Baidhawi dalam tafsinya Anwâr al-Tanzîl wa Asrâr al-Ta’wîl menjelaskan bahwa apabila seseorang mencintai Allah Swt. maka cinta tersebut harus dibuktikan dengan patuh kepada perintahnya. Dan patuh kepada perintahnya tidak akan sempurna tanpa mengikuti jejak Rasulullah Saw. Ayat di atas memberikan pelajaran bahwa cinta kepada Allah tidak cukup hanya diungkapkan melalui ucapan. Cinta tersebut harus dibuktikan dengan mengikuti dan meneladani Rasulullah Saw.

Meneladani Akhlak Nabi Dimulai dari Hal-Hal Sederhana

Meneladani Nabi Muhammad Saw tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang berat. Ia dapat dimulai dari kehidupan sehari-hari, seperti: menyayangi keluarga, menolong sesama, menghormati orang tua, berkata jujur, menjaga amanah, menjaga lisan, tidak merendahkan orang lain, serta mengendalikan amarah.

Jika akhlak tersebut benar-benar diterapkan, maka seseorang telah berusaha menghadirkan nilai-nilai kenabian dalam kehidupannya. Pada akhirnya, Ketika seseorang membiasakan diri meneladani akhlak Nabi dimulai dari sesuatu yang sederhana, maka nantinya ia akan mendekati kesempurnaan akhlak manusia paling mulia.

Nabi Muhammad Saw telah memberikan teladan. al-Qur’an telah memberikan kesaksian tentang kemuliaan akhlaknya. Tinggal kita yang menentukan: Apakah beliau hanya akan menjadi sosok yang kita kagumi, atau benar-benar menjadi teladan yang kita ikuti?

Zainul Hasan

Zainul Hasan

Belajar dimanapun dan dengan siapapun.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA