Pelatihan Dai Internasional Al-Azhar Perdana: Turats Harus Hidup di Tengah Zaman!

waktu baca 3 menit
Kamis, 8 Okt 2026 21:42 0 1 Miftahul Arifin

KAIRO — Apa yang dibutuhkan seorang dai ketika berhadapan dengan masyarakat yang terus berubah? Penguasaan khazanah keislaman klasik saja tidak cukup jika tidak disertai kemampuan membaca realitas. Persoalan inilah yang menjadi salah satu perhatian dalam Pelatihan Dai Internasional yang diselenggarakan Lembaga Dakwah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (LD PCINU) Mesir bersama Forum Dai Muda dan Fatayat (FORDAF) bekerja sama dengan Akademi Dai Internasional Al-Azhar. Program yang berlangsung selama dua pekan tersebut ditutup pada Rabu (7/10/2026) di Qa’ah Imam Ahmed al-Thayyeb, Gedung Majma’ Buhuts Islami, Kairo.

Salah satu hal yang ditekankan dalam pelatihan ini adalah kedalaman manhaj Azhari yang mempertemukan turats dengan pendekatan kontemporer. Peserta tidak hanya diarahkan untuk memahami warisan keilmuan Islam yang telah berkembang selama berabad-abad, tetapi juga diajak melihat bagaimana khazanah tersebut dapat dibaca dalam konteks masyarakat hari ini. Turats menjadi fondasi keilmuan, sementara realitas kontemporer menjadi ruang untuk menguji bagaimana pengetahuan tersebut dapat diterapkan. Dengan pendekatan semacam ini, selanin ilmu keislaman sebagai pengetahuan yang tersimpan dalam kitab, ia juga memiliki hubungan dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Bagi seorang dai, kemampuan membaca dua ruang cukkup krusial karena persoalan masyarakat semakin beragam. Perubahan teknologi, budaya, pola komunikasi, hingga dinamika sosial menuntut penyampaian agama yang memiliki dasar keilmuan sekaligus mampu menjangkau konteks kehidupan masyarakat. Perwakilan peserta mengatakan, pelatihan tersebut memberikan pemahaman tentang bagaimana manhaj Azhari memadukan turats dan pendekatan kontemporer. “Dari dauroh ini kita mendapatkan kedalaman manhaj Azhari yang memadukan antara turats dan pendekatan kontemporer. Kita jadi mempunyai amanah, yaitu menerjemahkan apa yang sudah kita pelajari ke dalam realitas masyarakat,” ungkapnya.

Ketua Akademi Dai Internasional Al-Azhar, Prof. Dr. Hasan Shaghir, menjelaskan bahwa program tersebut merupakan arahan langsung Grand Syekh Al-Azhar, Prof. Dr. Ahmed al-Thayyeb. Program ini dirancang sebagai bagian dari kualifikasi dan pelatihan berkelanjutan bagi calon imam, penceramah, cendekiawan, serta para wafidin atau mahasiswa asing dari berbagai negara. Artinya, pelatihan tersebut ditempatkan sebagai bagian dari proses pembentukan kapasitas dai yang berlangsung secara berkelanjutan, dengan memperkuat bekal keilmuan sekaligus kemampuan menghadapi persoalan masyarakat.

Pelatihan ini diikuti 51 peserta Masisir yang mayoritas telah menyelesaikan jenjang S1 (Lc.) maupun sedang menempuh studi S2. Ketua Panitia Pelaksana, M. Alaikas Salam, mengatakan program tersebut menjadi ruang bagi Masisir yang memiliki potensi dakwah untuk memperoleh sertifikasi dari lembaga Al-Azhar sekaligus mendapatkan pembekalan mengenai metodologi pengemasan dakwah yang adaptif agar lebih mudah diterima masyarakat Indonesia.

Pembekalan peserta juga tidak berhenti pada penutupan dauroh. Mereka dijadwalkan mengikuti Pelatihan Akademi Diplomat yang dipandu langsung oleh diplomat KBRI Kairo pada 17–19 Oktober mendatang. Menurut Alaikasalam (Ketua pelaksan), keberlanjutan program menjadi bagian penting dari arah kegiatan tersebut. Panitia berencana menjadikannya sebagai agenda tahunan dengan cakupan peserta yang lebih luas, termasuk membuka peluang bagi masyarakat Indonesia di luar Mesir yang ingin mengikuti pelatihan secara langsung di Kairo.

Melalui program ini, pelatihan dai diarahkan pada kebutuhan yang lebih luas daripada sekadar mendapatkan sertifikat. Peserta dipersiapkan untuk membawa kedalaman tradisi keilmuan Al-Azhar ke tengah masyarakat yang memiliki persoalan dan karakter yang terus berkembang. Di situlah tantangan seorang dai berada: menjaga pijakan pada turats, membaca perubahan zaman, lalu menerjemahkan keduanya menjadi dakwah yang dapat dipahami dan menjawab kebutuhan masyarakat.

Editor: Uwaiys al Qorny

Miftahul Arifin

Miftahul Arifin

Makhluk Tuhan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA